Skip to main content

Imam Syafii: Santri yang Tak Menyerah pada Keadaan

Cacat fisik sejak lahir tidak membuat Imam Syafii putus asa. Dari tanah Sumatera, ia mengarungi samudera intelektual di Pondok Pesantren Lirboyo-- salah satu pesantren yang bertahan dengan sistem pendidikan klasikal.
Santri Cacat
Imam Syafii saat mengikuti pelajaran di kelas (foto: Kabar Kedir)
Mengenakan peci hitam, bersarung dan baju kemeja dengan sajadah tersampir di pundaknya, ia melompat-lompat menyusuri gang di sela-sela kamar santri di Pondok Pesantren Lirboyo – Kota Kediri. Sesekali tangan kanannya yang tumbuh tidak sempurna yang hanya memiliki dua jari seperti japit kepiting meraih tembok untuk menjaga keseimbangan. Ia hanya bertumpu pada satu kaki, karena kaki kirinya buntung hingga pangkal paha. Sementara tangan kirinya kecil dan buntung diatas siku. Tujuannya tidak jauh, ke kantin pesantren untuk makan siang.
foto: Kabar Kedir

Saat pertama kali tiba di Pondok Lirboyo pada 2008 lalu, ia masih berusia 18 tahun. Harusnya dengan usia seperti itu, dalam ukuran pendidikan formal seharusnya sudah memasuki bangku perkuliahan. Namun di Lirboyo, semua diberlakukan sama, tidak memandang usia. Imam Syafii yang ingin memperdalam agama islam harus belajar mulai dari bawah dalam madrasah sekelas Ibtidaiyah (SD-red).
foto: Kabar Kedir
“Saya ingin menjadi guru agama di kampung, orang tua saya akan bangga jika saya bisa lulus mondok dari Lirboyo,” katanya suatu ketika saat kami berbincang di dalam kamar, bersama teman-temannya. “Lazimnya orang cacat seperti saya lebih mudah jadi pengemis, saya tidak ingin mencari uang dengan menjadi pengemis,” katanya dengan mata menerawang.
Ia tidak ingin menjelaskan dengan detail soal dari mana asal usulnya, baginya kondisi fisiknya bukan untuk mencari belas kasihan dari orang lain. Di dalam kelas ia juga berlaku sama seperti rekan-rekan santri lainnya yang normal. Ia tetap menulis dengan tangannya sendiri, meskipun tak jarang ada teman yang merasa kasihan dan dengan suka rela membantu. Baginya, ilmu yang didapatkannya dengan kerja keras akan menjadi berkah untuk kehidupannya kelak. “Kebahagiaan saya adalah membuat orang tua bangga, saya tidak ingin orang tua menyesali keadaan saya. Semua sudah takdir Allah,” katanya. (Arief Priyono)

Sumber : Kabar Kediri

Comments

Popular posts from this blog

FIKIH AKTUAL: BAB QURBAN

Oleh: KH Zaenuri Ahmad Zain Definisi hewan Qurban atau Udlhiyah adalah hewan ternak yang disembelih untuk mendekatkan diri kepada Allah di hari raya idul Adha hingga akhir hari Tasyriq (Syaikh Khatib asy-Syirbini, Mughni al-Muhtaj 6/122) Qurban adalah ibadah yang selalu dilaksanakan oleh Rasulullah Saw dalam setiap tahunnya. Dan ketika Rasulullah Saw menyembelih Qurban beliau berdoa: “Bismillah. Allahumma taqabbal min Muhammad wa ali Muhammad wa min ummati Muhammad”. Artinya: “Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah terimalah Qurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad” (HR Muslim) Hukum Ibadah Qurban Imam an-Nawawi mengutip di dalam kitabnya (al-Majmu’ 8/385) tentang perbedaan pendapat mengenai hukum Qurban ini. Namun mayoritas ulama yang didukung oleh Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar serta beberapa ulama madzhab adalah sunah. Hal ini berdasarkan hadis: “Tsalatsun Hiya ‘alayya faraidl wa lakum tathawwu’n an-nahru wa al-witru wa rak’ata ad-dlu...

Tarekat Sanusiyyah di Libya: Politik Islam dan Esoterisme Islam

Omar Mokhtar, salah seorang murid tarekat Sanusiyyah, singa padang pasir yang membuat gentar penjajah Italia A. Muntaha Afandie Historical accounts kehidupan para sufi terangkai bagaikan legenda. Cerita nan kompleks: kisah penuh hayalan, dan kasat pula dengan nilai-nilai spiritual, rasionil dan irasionill. Maka, sulit bagi kita untuk menyangkal bahwa tidak mungkin kehidupan kita dapat terpisahkan dari kisah-kisat tersebut, dan sulit pula untuk membedakan bagian mana yang merupakan cerita fiksi dan bagian mana yang menjadi realitas historis. Inilah tasawuf yang datang selalu “nyentrik” untuk kita pelajari.  Di zawiyah-zawiyah, bangunan khusus yang dipakai para sufi untuk mengasingkan diri, mereka menyepi; berdzikir dan membaca aurad. Hay ibn Yaqdhah, ”anak rusa” yang berhasil menemukan Tuhannya setelah lama melakukan ”riset” dan berkali-kali mengalami kegagalan. Demikian metode Ibn Thufail, filosof neo-platonis, mengambarkan proses kasyaf seorang sufi. Ada Ibrahim Ibn Adh...

Tasawuf al-Ghazali dan Relevansinya dalam Konteks Sekarang: Kajian Terhadap Kitab Ihya’ Ulum al-Din

Oleh Abdul Moqsith Ghazali Imam Ghazali tak hanya menjalankan tindakan-tindakan sufi, melainkan juga menulis buku-buku tasawuf. Karyanya yang paling gemilang di bidang ini adalah  Ihya’ Ulum al-Din . Sejauh yang bisa dilihat dari karyanya ini, diketahui bahwa corak tasawuf al-Ghazali lebih dekat kepada tasawwuf  khuluqi-‘amali  ketimbang tasawwuf  falsafi . Tak hanya bersandar kepada al-Qur’an dan Hadits yang menjadi ciri kuat tasawuf  khuluqi-‘amali  (kerap juga disebut tasawwuf sunni), melainkan juga al-Ghazali menuliskan pengalaman spiritual individualnya dalam buku ini. Abstrak Tak ada yang membantah kebesaran al-Ghazali. Magnum opusnya di bidang tasawuf, Ihya’ Ulum al-Din , mendapatkan sambutan meriah dan antusiasme dari publik Islam, sejak dulu hingga sekarang. Di tengah kecenderungan menjauhkan tasawuf dari ajaran Islam, Imam Ghazali menghidangkan tasawuf yang bertumpu pada al-Qur’an dan Hadits. Kitab Ihya’ Ulum al-Din  rimbun deng...