Skip to main content

Inilah Isi Surat Ra Lilur kepada HARIAN BANGSA

Ra Lilur akhirnya berkirim surat kepada HARIAN BANGSA. Meski cicit Syaikhona Kholil itu tak pernah membaca koran, namun ia tahu betul isi berita HARIAN BANGSA yang menulis keunikan dirinya.
Surat itu dititipkan kepada seseorang kemudian diberikan kepada Taufiqurrahman, wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan. Surat itu sangat sederhana, namun isinya cukup mengena dan mendalam. Hanya satu lembar, tapi diketik dengan mesin ketik manual. Selain berisi saran juga disertai kaidah-kaidah agama dalam bentuk huruf Arab.
Surat ini penting dimuat karena tulisan tentang Ra Lilur mendapat sambutan luar biasa dari pembaca. Bahkan ada pembaca yang menelepon kepada redaksi HARIAN BANGSA menanyakan, apakah koran ini sudah seijin Ra Lilur ketika menulis kiai jadab yang suka berendam di tengah laut itu.
"Karena surat kabar BANGSA tertanggal 4 Agustus 2001 halaman 6, dengan judul "Tiba-tiba Berpakaian Serba Merah" memuat pengungkapan nama saya dikategorikan yang berlebihan.
Maka perlu saya membuat uraian (bukan sanggahan) untuk menjaga tetap baiknya i'tikad orang awam. Ini sebagian yang tertera di surat kabar itu kolom I tanggal 4 bulan Agustus tahun 2001 halaman 6:
"Ra Lilur tampaknya memang sudah mencapai tingkat kasyaf dst... dst..."," tulis Ra Lilur mengawali suratnya.
Yang menarik, surat Ra Lilur minta agar tak menafsirkan terlalu jauh tentang perilaku manusia. Ia minta agar perilaku manusia dipandang dari segi dhahiriyah-nya saja, tak usah ditafsirkan macam-macam.
"Inilah uraian saya: Martabat manusia tak akan melebihi Nabi. Tak akan luas pengaruh manusia individu kecuali manusia yang berkedudukan resmi dan berkarya resmi pula. Pengumandangan agama Islam adalah dhohiriyah, pandanglah manusia dan perilakunya dengan apa yang terpandang tak usah mengungkit-ungkit apa yang tersirat cukup dengan yang tersurat," tulis Ra Lilur lebih lanjut.
Ra Lilur kemudian menulis, "Selain niat dan syarat-syarat dan rukun Ibadah serta muamalat hanyalah dhahiriyah. Sebab itu maka tak layak bagi manusia mengungkap-ungkap batiniyah seperti watak, dan jiwa yang bergairah buruk. Kecuali orang teranugerah padahal itu.
Ra Lilur kemudian mengutip kaidah bahasa Arab yang artinya, "Dan manusia hanya diperintah mengikuti kaidah-kaidah agama, makanya tak usah isyarat-isyaratan."
Ra Lilur juga mengetengahkan kaidah yang ditulis dalam bahasa Arab. Kaidah itu ia beri arti sebagai berikut:
"Dan Nabi sendiri tak suka terlalu diagung-agungkan seperti tersebut."
Ra Lilur juga kembali menulis dengan bahasa Arab yang artinya: "Pandanglah manusia dan muammalah dengan dhahiriyah, kalau dukun itu dengan batiniyah maka itu hal dukun sendiri."


Sumber: Harian Bangsa

Comments

Popular posts from this blog

Tarekat Sanusiyyah di Libya: Politik Islam dan Esoterisme Islam

Omar Mokhtar, salah seorang murid tarekat Sanusiyyah, singa padang pasir yang membuat gentar penjajah Italia A. Muntaha Afandie Historical accounts kehidupan para sufi terangkai bagaikan legenda. Cerita nan kompleks: kisah penuh hayalan, dan kasat pula dengan nilai-nilai spiritual, rasionil dan irasionill. Maka, sulit bagi kita untuk menyangkal bahwa tidak mungkin kehidupan kita dapat terpisahkan dari kisah-kisat tersebut, dan sulit pula untuk membedakan bagian mana yang merupakan cerita fiksi dan bagian mana yang menjadi realitas historis. Inilah tasawuf yang datang selalu “nyentrik” untuk kita pelajari.  Di zawiyah-zawiyah, bangunan khusus yang dipakai para sufi untuk mengasingkan diri, mereka menyepi; berdzikir dan membaca aurad. Hay ibn Yaqdhah, ”anak rusa” yang berhasil menemukan Tuhannya setelah lama melakukan ”riset” dan berkali-kali mengalami kegagalan. Demikian metode Ibn Thufail, filosof neo-platonis, mengambarkan proses kasyaf seorang sufi. Ada Ibrahim Ibn Adh...

FIKIH AKTUAL: BAB QURBAN

Oleh: KH Zaenuri Ahmad Zain Definisi hewan Qurban atau Udlhiyah adalah hewan ternak yang disembelih untuk mendekatkan diri kepada Allah di hari raya idul Adha hingga akhir hari Tasyriq (Syaikh Khatib asy-Syirbini, Mughni al-Muhtaj 6/122) Qurban adalah ibadah yang selalu dilaksanakan oleh Rasulullah Saw dalam setiap tahunnya. Dan ketika Rasulullah Saw menyembelih Qurban beliau berdoa: “Bismillah. Allahumma taqabbal min Muhammad wa ali Muhammad wa min ummati Muhammad”. Artinya: “Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah terimalah Qurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad” (HR Muslim) Hukum Ibadah Qurban Imam an-Nawawi mengutip di dalam kitabnya (al-Majmu’ 8/385) tentang perbedaan pendapat mengenai hukum Qurban ini. Namun mayoritas ulama yang didukung oleh Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar serta beberapa ulama madzhab adalah sunah. Hal ini berdasarkan hadis: “Tsalatsun Hiya ‘alayya faraidl wa lakum tathawwu’n an-nahru wa al-witru wa rak’ata ad-dlu...

Tasawuf al-Ghazali dan Relevansinya dalam Konteks Sekarang: Kajian Terhadap Kitab Ihya’ Ulum al-Din

Oleh Abdul Moqsith Ghazali Imam Ghazali tak hanya menjalankan tindakan-tindakan sufi, melainkan juga menulis buku-buku tasawuf. Karyanya yang paling gemilang di bidang ini adalah  Ihya’ Ulum al-Din . Sejauh yang bisa dilihat dari karyanya ini, diketahui bahwa corak tasawuf al-Ghazali lebih dekat kepada tasawwuf  khuluqi-‘amali  ketimbang tasawwuf  falsafi . Tak hanya bersandar kepada al-Qur’an dan Hadits yang menjadi ciri kuat tasawuf  khuluqi-‘amali  (kerap juga disebut tasawwuf sunni), melainkan juga al-Ghazali menuliskan pengalaman spiritual individualnya dalam buku ini. Abstrak Tak ada yang membantah kebesaran al-Ghazali. Magnum opusnya di bidang tasawuf, Ihya’ Ulum al-Din , mendapatkan sambutan meriah dan antusiasme dari publik Islam, sejak dulu hingga sekarang. Di tengah kecenderungan menjauhkan tasawuf dari ajaran Islam, Imam Ghazali menghidangkan tasawuf yang bertumpu pada al-Qur’an dan Hadits. Kitab Ihya’ Ulum al-Din  rimbun deng...