Monday, August 31, 2015

Inilah Isi Surat Ra Lilur kepada HARIAN BANGSA

Ra Lilur akhirnya berkirim surat kepada HARIAN BANGSA. Meski cicit Syaikhona Kholil itu tak pernah membaca koran, namun ia tahu betul isi berita HARIAN BANGSA yang menulis keunikan dirinya.
Surat itu dititipkan kepada seseorang kemudian diberikan kepada Taufiqurrahman, wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan. Surat itu sangat sederhana, namun isinya cukup mengena dan mendalam. Hanya satu lembar, tapi diketik dengan mesin ketik manual. Selain berisi saran juga disertai kaidah-kaidah agama dalam bentuk huruf Arab.
Surat ini penting dimuat karena tulisan tentang Ra Lilur mendapat sambutan luar biasa dari pembaca. Bahkan ada pembaca yang menelepon kepada redaksi HARIAN BANGSA menanyakan, apakah koran ini sudah seijin Ra Lilur ketika menulis kiai jadab yang suka berendam di tengah laut itu.
"Karena surat kabar BANGSA tertanggal 4 Agustus 2001 halaman 6, dengan judul "Tiba-tiba Berpakaian Serba Merah" memuat pengungkapan nama saya dikategorikan yang berlebihan.
Maka perlu saya membuat uraian (bukan sanggahan) untuk menjaga tetap baiknya i'tikad orang awam. Ini sebagian yang tertera di surat kabar itu kolom I tanggal 4 bulan Agustus tahun 2001 halaman 6:
"Ra Lilur tampaknya memang sudah mencapai tingkat kasyaf dst... dst..."," tulis Ra Lilur mengawali suratnya.
Yang menarik, surat Ra Lilur minta agar tak menafsirkan terlalu jauh tentang perilaku manusia. Ia minta agar perilaku manusia dipandang dari segi dhahiriyah-nya saja, tak usah ditafsirkan macam-macam.
"Inilah uraian saya: Martabat manusia tak akan melebihi Nabi. Tak akan luas pengaruh manusia individu kecuali manusia yang berkedudukan resmi dan berkarya resmi pula. Pengumandangan agama Islam adalah dhohiriyah, pandanglah manusia dan perilakunya dengan apa yang terpandang tak usah mengungkit-ungkit apa yang tersirat cukup dengan yang tersurat," tulis Ra Lilur lebih lanjut.
Ra Lilur kemudian menulis, "Selain niat dan syarat-syarat dan rukun Ibadah serta muamalat hanyalah dhahiriyah. Sebab itu maka tak layak bagi manusia mengungkap-ungkap batiniyah seperti watak, dan jiwa yang bergairah buruk. Kecuali orang teranugerah padahal itu.
Ra Lilur kemudian mengutip kaidah bahasa Arab yang artinya, "Dan manusia hanya diperintah mengikuti kaidah-kaidah agama, makanya tak usah isyarat-isyaratan."
Ra Lilur juga mengetengahkan kaidah yang ditulis dalam bahasa Arab. Kaidah itu ia beri arti sebagai berikut:
"Dan Nabi sendiri tak suka terlalu diagung-agungkan seperti tersebut."
Ra Lilur juga kembali menulis dengan bahasa Arab yang artinya: "Pandanglah manusia dan muammalah dengan dhahiriyah, kalau dukun itu dengan batiniyah maka itu hal dukun sendiri."


Sumber: Harian Bangsa

Labels:

Main Drama, Ada di Dua Tempat dalam Waktu Sama


Namun ada yang lebih unik lagi dibalik peristiwa itu. Ceritanya begini. Salah seorang kiai tidak bisa pada undangan Ra Lilur di resepsi anak Husni itu. Keesokan harinya, sang kiai datang ke rumah tuan rumah (H. Husni Madani) untuk minta maaf karena tidak bisa hadir dalam pesta pernikahan anaknya. Lho, kenapa? Inilah yang ajaib. Ternyata kiai tersebut mengaku tidak bisa hadir karena kedatangan Ra Lilur ke rumahnya. Padahal 300 kiai yang diundang menyaksikan bahwa Ra Lilur sedang pentas main drama.
"Saya heran, lha wong pada malam itu bersama saya, tapi ternyata ada seorang kiai yang mengatakan Ra Lilur sedang bertamu ke rumahnya," kata Husni.
Kejadian serupa juga terjadi pada salah seorang kerabat Husni di Jakarta. Itu terjadi saat acara haul KH. Amin Imron. Pada acara tersebut, tiba-tiba Ra Lilur datang dan mengikuti acara tersebut. Kontan saja tuan rumah keheranan melihat kehadiran kiai yang jarang muncul di depan publik itu.
Tak hanya itu, Ra Lilur juga bertanya kepada tuan rumah soal foto dirinya yang dipajang didalam kamar. "Mana foto saya yang dipajang di dalam kamar," sergah Ra Lilur seperti ditirukan Husni. Padahal, sebelumnya Ra Lilur tidak pernah sowan ke rumah kerabat Husni itu. Yang mengherankan Husni, karena ketika Ra Lilur dikabarkan ada di Jakarta menghadiri acara haul itu, sebenarnya kiai aneh itu berada di ndalem (sebutan rumah kiai) di Desa Banjar Galis. Ini berarti, lagi-lagi Ra Lilur berada di dua tempat dalam waktu bersamaan.


Naik Kendaraan Keliling Surabaya Tanpa Bensin

Keanehan yang ditunjukkan oleh Ra Lilur memang seolah tak pernah habis. Orang-orang yang pernah menyaksikan langsung perilaku Ra Lilur selalu dibuat geleng-geleng kepala.
Maklum, banyak peristiwa tak masuk akal, namun terjadi secara nyata. Suatu ketika, Ra Lilur memanggil ajudan kepercayaannya, H. Husni Madani. Saat cicit Syaikhona Kholil Bangkalan itu minta agar Husni menemaninya jalan-jalan di Surabaya. Permintaan itu langsung diiyakan.
Berikutnya, Ra Lilur minta agar ajudannya menyewa sebuah mobil berikut sopirnya. Setelah rampung, keduanya berangkat ke Surabaya. Anehnya, ketika sang sopir hendak mengisi bensin, Ra Lilur melarang. "Sudah tak usah isi bensin," kata Ra Lilur.
Karena tahu siapa Ra Lilur sebenarnya, sang sopir langsung tancap gas menyeberangi Selat Madura. Ia melesat ke Surabaya. Di kota pahlawan ini sehari penuh kendaraan yang ditumpangi Ra Lilur melaju. Tapi uniknya, tak sedikitpun jarum spido penunjuk bensin turun.
"Sepanjang jalan saya terus mengawasi jarum penunjuk bensin. Tapi bensinnya tetap penuh. Saya jadi heran, lha wong bensin tidak diisi sama sekali, tapi tidak habis," tutur Husni heran.
Uniknya lagi, ketika kembali ke Desa Banjar Galis, Bangkalan Madura, tangki bensin tetap tidak berubah alias full tang. "Kalau dipikir, bahan bakar kendaraan itu siapa yang ngisi ya," kata ajudan kepercayaan kiai jadab ini.
Kejadian seperti itu sering disaksikan Husni. Pernah suatu ketika Ra Lilur mengajak Husni keliling Kabupaten Bangkalan. Saat itu, Ra Lilur menyewa sebuah mobil pick up. Sang sopir diminta untuk menuruti permintaannya.
Seperti halnya kejadian yang lalu, ketika sang sopir hendak mengisi bahan bakar, Ra Lilur melarang. Lagi-lagi orang yang mengikuti perjalanan kiai kasaf ini terheran-heran. Karena sejak berangkat hingga pulang bensinnya tetap pada posisi awal.


Gara-gara Bicara Kasar, Sial, Lantas Meninggal

Ini merupakan peringatan keras kepada siapa saja yang melakukan tindakan konyol dengan berkata kasar dan membohongi Ra Lilur. Kalau hal tersebut dilakukan, bisa-bisa naas peristiwa yang dialami seorang sopir pick up.
Ajudan Ra Lilur, H. Husni mengatakan, sopir itu diketahui meninggal setelah mengalami sakit yang berkepanjangan. Kabar itupun terkuak setelah sopir lain menceritakan nasib yang menimpa temannya. Kisah tersebut berawal ketika Husni bersama Ra Lilur melakukan perjalanan dari Kecamatan Sepuluh menuju Desa Banjar Galis Bangkalan Madura. Di tengah perjalanan, motor yang ditumpangi macet karena mengalami kerusakan pada bagian mesin.
Karena tak bisa memperbaiki, Husni memutuskan untuk beristirahat seraya menunggu tumpangan untuk Ra Lilur. Beruntung, setelah beberapa menit beristirahat, ada sebuah mobil pick up melintas di sebuah jalan desa. Ra Lilur kemudian meminta agar ajudannya menyetop mobil itu untuk ikut. Namun setelah dicegat, sang sopir berkata kalau mobilnya tidak dibuat angkutan. "Lok muwak (tidak mau muat, red)," kata sang sopir dengan kasar.
Karena ditolak, Husni kembali istirahat sembari menunggu tumpangan yang lain. Ternyata setelah beberapa meter dari tempat istirahat, mobil yang dicegatnya tadi mengangkut beberapa karung kedondong milik pedagang. Setelah kejadian itu, Husni tidak pernah berpikir apa yang akan terjadi pada sang sopir di balik kata-kata kasar dan bohong yang diucapkan kepada seorang kiai jadab itu.
Beberapa bulan berikutnya, Ra Lilur berniat untuk melakukan perjalanan keliling kota Bangkalan. Seperti biasa, kiai kasaf ini memerintahkan ajudannya untuk mencari mobil tumpangan.
Tapi anehnya, sebelum diperintah mencari mobil, Ra Lilur berpesan agar memilih mobil pick up deretan ketiga dari belakang. "Karena itu perintah kiai, saya tidak bisa menolaknya,"tuturnya.
Perjalananpun dilakukan, setelah sampai di daerah pesisir barat Kecamatan Socah, Bangkalan, Ra Lilur berhenti. Ia langsung melakukan perjalanan ke tengah laut. "Saya tidak tahu kemana kiai berjalan. Tapi beliau terus berjalan hingga tidak kelihatan," kata Husni.
Ditengah penantian tersebut, Husni ngobrol dengan sopir pick up yang menjadi pilihan Ra Lilur. Ternyata, sang sopir bercerita panjang lebar soal peristiwa yang pernah dialami temannya yang juga sopir pick up itu. Dikatakan, setelah sopir pertama menolak permintaan Ra Lilur dengan kata-kata kasar dan bohong, dia terus mengalami banyak peristiwa sial. Mula-mula hasil uang dari nyopir itu selalu habis hanya untuk membayar biaya tilang polisi.
Berikutnya, dia terus mengalami sakit yang tak kunjung sembuh hingga akhirnya meninggal. "Mantuan (paman haji, red), sopir pertama yang pegang mobil ini meninggal setelah menolak permintaan kiai," kata sopir itu lirih.
Mendengar penjelasan itu, Husni teringat peristiwa yang pernah dialaminya. Ternyata, Ra Lilur memilih mobil pick up pada deret ketiga itu merupakan tebusan dari penolakan sopir yang pernah berkata kasar itu. Karena sopir yang berkata kasar itu dulu juga menyopir mobil yang sekarang dipakai itu. bersambung.

Labels:

Sunday, August 30, 2015

Ra Lilur: Di Kepala Kiai Ada Nasi ketika Jadi Imam Shalat

Perilaku aneh yang ditampakkan Ra Lilur tampaknya memang berkaitan dengan leluhurnya yang memang wali. Syaikhona Kholil Bangkalan, buyut Ra Lilur juga dikenal berperilaku aneh-aneh. Kiai Kholil dikenal sebagai ahli nahwu (gramatika Arab). Konon, ketika masih kecil Kiai Kholil sudah menunjukkan tanda-tanda aneh. Suatu ketika ia shalat berjama'ah bersama para santri dan kiainya. Seperti biasa, yang jadi imam adalah kiainya. Namun tiba-tiba Kholil kecil tertawa terbahak-bahak. Usai shalat kiainya memarahi Kholil. "Orang lagi shalat kamu malah tertawa. Apa maumu," bentak sang kiai.
Kholil menjawab enteng. "Sewaktu kiai shalat tadi saya lihat ada nasi di atas kopyah kiai, karena itu saya tertawa," jawab Kholil.
Seketika kiainya kaget sekaligus malu. Ia sadar bahwa shalatnya tak khusuk karena ingin cepat-cepat pergi menghadiri kenduri. Sejak itu kiainya mulai menaruh perhatian besar pada Kholil. Ia sadar bahwa diantara santrinya ada yang punya kemampuan luar biasa. Yakni punya kasafah.
Dugaan kiai itu betul. Kholil kemudian berkembang menjadi kiai besar. Bahkan menjadi kiai hampir seantero Jawa, karena kiai-kiai besar di Jawa adalah santri atau pernah nyantri pada Kiai Kholil.
Keanehan Kiai Kholil terus terjadi ketika sudah kesohor. Suatu ketika Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari mau nyantri ke pesantren yang diasuh Kiai Kholil di Bangkalan. Kiai Hasyim yang waktu itu masih muda langsung dites. Kiai yang kemudian menjadi pendiri NU itu, konon, disuruh naik ke atas pohon bambu. Sementara Kiai Kholil terus mengawasi dari bawah sembari memberi isyarat agar terus naik sampai ke puncak. Kiai Hasyim terus naik sesuai perintah gurunya itu. Ia tak peduli apakah pohon bambu itu melur atau bagaimana. Yang jelas, ia hanya patuh pada perintah kiainya.
Anehnya, begitu sampai di puncak Kiai Kholil mengisyaratkan agar Kiai Hasyim meloncat ke bawah. Tanpa pikir panjang Kiai Hasyim langsung meloncat. Ternyata ia selamat.

Yang menarik, dua kiai besar ini sama-sama tawadhu' alias rendah hati. Mereka sama-sama saling berguru. Kiai Hasyim terkenal sebagai ahli hadits. Biasanya Kiai Hasyim mengajarkan hadits itu pada santri sebulan penuh bila bulan puasa. Ternyata Kiai Kholil, meski dikenal sebagai guru Kiai Hasyim, ikut juga jadi santri. Ia tak gengsi memperdalam ilmu meski kepada muridnya sendiri. Sebaliknya, ia malah sangat menghormati Kiai Hasyim.
Tradisi tawadhu' (rendah hati) itu ternyata terus menurun ke generasi berikutnya. Gus Dur -cucu Kiai Hasyim- sangat menghormati keturunan Kiai Kholil. Begitu juga KH. Fuad Amin -cicit Kiai Kholil- sangat menghormati keturunan Kiai Hasyim.
"Kalau saya salaman mencium tangan Gus Dur langsung ditarik," tutur Fuad Amin.


Geger, Wanita Misterius Penjemur Ikan Dinikahi Kiai


Di kawasan pesisir Bangkalan ada seseorang wanita yang sehari-harinya membersihkan ikan. Wanita itu tak ubahnya seorang buruh. Ia tiap hari membersihkan dan menjemur ikan milik orang. Ia hanya dapat upah sekian rupiah dari jerih payahnya itu.
Kesibukan di kawasan pesisir itu membuat orang tak pernah memperhatikan wanita itu. Apalagi wanita itu memang tampil seperti umumnya buruh; kusut dan agak kotor. Karena itu masyarakat tak pernah memperdulikan.
Masyarakat baru terhenyak ketika wanita berpenampilan kumal itu dinikahi Ra Lilur. Rasan-rasan pun ramai. Mereka seolah tak percaya kiai seterhormat Ra Lilur mau menikahi wanita buruh itu.
Yang menarik, begitu berita pernikahan Ra Lilur dengan wanita itu tersebar, masyarakat mulai bertanya-tanya, dari mana asalnya wanita tersebut. Sebab meski setiap hari bertemu dan berkumpul masyarakat di sekitar pesisir itu tak ada yang tahu asal muasal wanita tersebut. Masyarakat pun mulai geger. Wanita itu dianggap misterius karena tak diketahui asal usulnya.
Ajaibnya, begitu masyarakat heboh tiba-tiba muncul informasi bahwa wanita tersebut berasal dari kesultanan Demak. Karuan saja masyarakat kembali ramai.
Tapi benarkah ia berasal dari kesultanan Demak? Wallahu a'lam. Tapi masyarakat di sekitar pesisir itu yakin ia berasal dari Demak. Yang juga unik wanita itu tetap sederhana meski dinikahi Ra Lilur. Padahal ia telah jadi istri orang terhormat dan disegani masyarakat.
Bahkan Ra Lilur bukan saja disegani masyarakat tapi juga dihormati para ulama. Toh istri Ra Lilur tetap bersahaja. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya ia berjualan es lilin. Dagangannya itu kadang dijajakan kepada para santri KH. Abdullah Schaal di Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan. "Ia sering ke sini (pesantren) jual es lilin," kata salah seorang keluarga Kiai Abdullah Schaal.
Aneh, memang. Padahal, kalau mau, bisa saja ia kaya raya mengingat tamu Ra Lilur yang terus membludak. Ia juga bisa ongkang-ongkang, tak usah kerja keras, seperti umumnya istri kiai. Tapi itu tak ia lakukan. Ia lebih suka makan dari hasil keringatnya sendiri ketimbang menunggu pemberian masyarakat.


Terjangkit Penyakit Menahun, Diobati dengan Tiga Korma

Ra Lilur ternyata tak hanya piawai mendeteksi masa depan. Ia juga ahli mengobati orang sakit. Tak aneh jika banyak tamu yang minta tolong untuk mengobati penyakitnya. Bahkan semenjak hijrah ke sebuah desa di kecamatan Galis Bangkalan, tamu yang hadir meminta barokah semakin bejibun saja. Uniknya, yang datang tidak hanya dari kalangan santri dan masyarakat biasa, namun juga kiai pengasuh pesantren yang punya masalah.
Salah satunya, seorang kiai asal Surabaya. Kiai ini sudah puluhan tahun mengidap penyakit aneh. Awalnya dikira terkena serangan syaraf. Menurut analisis dokter spesialis syaraf terkenal yang praktik di Jl. Diponegoro Surabaya, kiai ini, syaraf rahangnya terganggu, sehingga sulit mengatupkan lidahnya. Kalau berbicara harus dipegang. Pendek kata penderitaan itu sudah lama.
Sebelum memeriksakan ke dokter neurolog tersebut, kiai ini melanglang buana berkonsultasi dengan berbagai ahli, baik ahli medis, maupun paranormal. Tapi hasilnya nol besar. Bahkan pernah juga berkonsultasi ke KH. Ghofur, pengasuh ponpes Sunan Drajat Paciran Lamongan.
Juga gagal. Salah seorang santrinya, pernah menyarankan agar berobat ke suatu daerah di Jabar. Tapi setelah dijalankan, perkembangannya hanya sesaat. Usai berobat, hanya sepekan kondisinya sehat, setelah itu kambuh lagi.
Karena penyakit yang menahun inilah, kemudian timbul syak swasangka, jangan-jangan penyakit aneh ini, bukan penyakit lahir, karena tak terdeteksi secara medis, tetapi penyakit kiriman, alias terkena sihir atau sejenisnya.
Namun kiai ini terus berikhtiar sembari tetap pasrah. Di tengah-tengah kepasrahan itulah, tiba-tiba timbul wisik-wisik dari seorang tamu yang agak aneh. Tamu itu menyarankan, agar meminta barokah ke Ra Lilur.
Tanpa pikir panjang, maka berangkatlah rombongan kiai itu ke tempat pedepokan Ra Lilur di sebuah desa Banjar kecamatan Galis Kabupaten Bangkalan. Biasanya orang yang tak pernah sowan ke Ra Lilur, sulit langsung ditemui. Tapi khusus yang satu ini, Ra Lilur langsung menyanggongnya. "Lenggi-lenggi pada parlo napa (mari silakan duduk, ada maksud apa ke sini)," sapanya.
Kiai ini langsung mengutarakan niatnya. Ia juga menceritakan perjalanannya berobat ke mana-mana, namun hasilnya nihil.
Mendengar keluhan itu, Ra Lilur langsung memberi tiga buah korma dari dalam rumahnya. "Da'ar pa tada' (silakan makan dihabiskan)," kata Ra Lilur.

Saat dialog itu tak begitu cair. Maklum Ra Lilur memang sering memperlihatkan suasana yang sulit ditebak. Kadang-kadang tertawa, tapi kadang-kadang tak banyak bicara.
Mungkin saat itu, Ra Lilur paham, betapa menderitanya kiai ini lantaran merasakan sakit menahun.

Usai menyuguhkan tiga korma, Ra Lilur memberi wejangan, agar kiai tadi, berobat ke seorang dokter kiai di sebuah kawasan sekitar Pasar Turi Surabaya. Kenapa disebut dokter kiai, karena dokter itu, selain memberi obat, juga memberi bacaan-bacaan.
Hasilnya? Alhamdulillah, penyakit menahun kiai sederhana itu akhirnya berangsur-angsur sembuh.
[bersambung]

Saturday, August 29, 2015

Jatuh dari Pematang, Minta Dibelikan Kosmetik

Isyarat Ra Lilur seputar perkembangan politik di Indonesia ternyata masih ada yang menarik untuk disimak. Ini terutama terkait dengan peristiwa jatuhnya Gus Dur dan naiknya Megawati sebagai Presiden belum lama ini.
Menurut H. Husni Madani, haddam Ra Lilur, dua bulan lalu cicit Syaikhona Kholil Bangkalan itu pernah mengalami peristiwa aneh. Diluar dugaan, ketika berjalan menuju biliknya di atas gunung, kiai jadab ini tiba-tiba jatuh dari pematang yang cukup tinggi.
"Peristiwa ini terjadi pada malam hari selepas isya. Saat berjalan di atas pematang, tiba-tiba kiai jatuh. Saking tingginya, sikut kiai sampai luka," tutur Husni kepada Taufiqurrahman, wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan. "Saya heran, soalnya pematangnya lebar dan kiai biasa berjalan melewatinya," katanya seraya geleng-geleng kepala.
Saat itu Husni masih belum berpikir isyarat yang bakal terjadi kelak dikemudian hari. Dia hanya berpikir, kiai yang sudah mencapai tingkat mukasafah ini hanya terjatuh biasa. "Saya pikir hanya jatuh biasa. Eh, ternyata Gus Dur dijatuhkan," kata Husni dengan logat Madura yang kental.
Begitu juga naiknya Megawati sebagai Presiden. Peristiwa Mega jadi Presiden tak luput dari isyarat aneh Ra Lilur. Dijelaskan, sepuluh hari menjelang sidang istimewa (SI) MPR, Ra Lilur minta dibelikan tiga meter kain warna merah. Dan keinginan itupun langsung diiyakan H. Husni.
Keesokan harinya, Ra Lilur kembali meminta ajudan kepercayaannya itu untuk membeli perlengkapan kosmetik. Ra Lilur berpesan agar semua kebutuhan kosmetik wanita dibeli lengkap dan dibungkus rapi.
"Pokoknya, keinginan kiai saya ibaratkan seseorang yang hendak melamar seorang wanita. Saat itu saya hanya berpikir kiai punya niat untuk meminangkan salah satu putri saya dengan seorang lelaki pilihan kiai," tukasnya.

Ternyata SI memutuskan Megawati sebagai Presiden RI menggantikan Gus Dur.
Lalu bagaimana dengan pembelian kain warna merah sepanjang tiga meter? Mungkinkah Mega bisa bertahan 3 tahun di kursi Presiden, yang berarti sampai 2004? Atau mungkin ada isyarat lain yang akan ditunjukkan oleh kiai jadab yang suka berendam di tengah laut dan mirip Nabi Khidlir ini? Wallahu a'lam.

Labels:

Friday, August 28, 2015

Serahkan Dekrit pada Kiai Abdullah Schaal


Keanehan Ra Lilur memang sulit ditebak. Terutama menyangkut peristiwa politik negara. Buktinya, jauh sebelum Gus Dur memberikan dekrit ia telah menyerahkan dekrit kepada dua kiai kharismatik Madura yakni KH. Abdullah Schaal dan KH. Zubair Muntasor.
Menurut khaddam kepercayaan Ra Lilur, H. Husni Madani, kiai yang sudah mencapai tahapan mukasafah ini enam bulan lalu pernah mengeluarkan sebuah dekrit. Dekrit tersebut berisi persoalan penerapan demokrasi yang tengah diperjuangkan oleh Gus Dur yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden.
Sayang selembar kertas dekrit asli tulisan tangan Ra Lilur itu diminta kembali. Sedangkan KH. Abdullah dan KH. Zubair hanya diberi salinannya (fotokopi) saja. H. Husni hanya ingat penggalan kalimat yang tersirat dalam dekrit Ra Lilur. Antara lain, demokrasi sulit dipraktikkan. Yang terakhir, berisi kalimat berat sama dipikul, setelah ringan tidak kebagian."Saya hanya ingat dua kalimat itu, sedangkan yang lain saya lupa," katanya.
Mengapa tidak difotokopi lebih? H. Husni mengatakan, sebenarnya dekrit itu difotokopi lebih dua lembar. Tapi setelah menghadap Ra Lilur, lembaran yang asli diminta sedangkan yang dua lembar fotokopi disimpannya.
"Anehnya, dua lembar fotokopi dekrit itu hilang. Padahal saya ingat dimana saya simpan," tuturnya keheranan. "Ya mungkin, kiai tidak kasokan (tidak mengijinkan, red),"katanya mengira-ngira.
KHadam kepercayaan Ra Lilur menjelaskan, fotokopi dekrit diberikan kepada KH. Abdullah sebanyak 5 lembar dan 5 lembar lainnya diserahkan kepada KH. Zubair. Dan setiap mengeluarkan surat, Ra Lilur selalu meminta surat asli tulisan tangannya.


Surati HARIAN BANGSA, Meski Tak Baca Koran

Keanehan-keanehan Ra Lilur yang diberitakan HARIAN BANGSA ternyata mendapat tanggapan dari cucu Syikhona Kholil Bangkalan Madura itu. Secarik kertas berisi tulisan tangan dengan lafal arab itu diberikan begitu saja kepada H. Husni Madani, khaddam (ajudan) kepercayaannya.
Karuan saja Husni kaget. Karena selama ini Ra Lilur tidak pernah keluar dari biliknya di sebuah pegunungan di Desa Banjar Galis. Kawasan ini jauh dari kota. Jaraknya sekitar 35 km dari kota Bangkalan. Kondisinya penuh bebatuan.
Selain itu Ra Lilur sudah lebih dua minggu ini tidak pernah berkomunikasi melalui lisan alias puasa bicara. Ra Lilur juga mengunci diri didalam kamarnya. Tak pernah keluar.
Jadi kiai yang suka berendam di tengah laut itu tak pernah baca koran. Tapi anehnya, kiai kasaf berumur lebih dari setengah baya ini tahu kalau saat ini dirinya sedang menjadi salah satu berita di rubrik Religia HARIAN BANGSA. Lebih aneh lagi, Ra Lilur tahu persis apa saja yang pernah dimuat tentang dirinya.
Menurut H. Husni, selama ini Ra Lilur tidak pernah diberi tahu soal pemuatan dirinya di HARIAN BANGSA. Memang Husni sendiri pernah membaca tulisan tentang Ra Lilur di HARIAN BANGSA. Tapi dia tidak berani memberikan koran HARIAN BANGSA yang memuat tentang dirinya itu karena takut tidak setuju dimuat di media massa.
Karena itu ia ketakutan ketika secara tiba-tiba dipanggil Ra Lilur. "Saya sempat ketar-ketir ketika dipanggil oleh Kiai (Ra Lilur, red). Karena saat itu kiai langsung bertanya dimana alamat redaksi HARIAN BANGSA," tutur H. Husni kepada Taufiqurrahman, wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan.
Bahkan, sambungnya, Ra Lilur, juga menanyakan siapa wartawan yang menulisnya."Saya berpikir kiai dukah (marah, red), tapi ternyata tidak," papar khaddam kepercayaan Ra Lilur yang sudah mengabdi puluhan tahun di rumahnya, Desa Banjar Galis.




Labels:

Thursday, August 27, 2015

Aparat Nangis, Minta Tolong Ditunjukkan Tommy Soeharto

Keanehan Ra Lilur semakin menjadi-jadi. Ini terkait dengan kondisi nasional yang masih belum menentu. Yang menarik, keanehan Ra Lilur itu kini banyak mengundang perhatian aparat. Bahkan ada anggota Polri berpangkat perwira menengah (Pamen) datang ke kiai yang dikenal punya kasaf itu untuk minta tolong. Si pamen itu rela bepergian tengah malam dengan sepeda motor menuju desa Banjar untuk menemui Ra Lilur.
Apa tujuan sang Polisi? Ajudan (khaddam) Ra Lilur, H. Husni Madani, bercerita kepada Taufiqurrahman wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan Madura tentang keinginan pamen berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) itu. Menurut Husni ia minta tolong agar ditunjukkan tempat persembunyian Tommy.
Namun Ra Lilur sulit ditemui. Karena itu pamen itu menyampaikan maksudnya itu melalui Husni. Diceritakan, sebelum menyampaikan keinginannya, selama tiga malam berturut-turut petinggi polri itu melakukan wirid dan mengaji di mushalla milik H. Husni.
"Malah dia (petinggi Polri itu) sampai menangis ketika membaca Al-qur'an," tuturnya.
Lantas bagaimana tanggapan Ra Lilur ketika ajudannya menyampaikan keinginan sang tamu? Dengan tegas Ra Lilur mengatakan, untuk memburu Tommy sangat sulit, karena memang ada yang membuatnya sulit. "Sulit karena memang dibuat sulit," jawab Ra Lilur singkat seperti ditirukan H. Husni. Jawaban itu diberikan Ra Lilur melalui ajudannya.
Dari jawaban Ra Lilur itu tersirat bahwa Tommy memang ada yang melindungi. Karena itu mudah dipahami jika beberapa pihak ragu terhadap upaya polisi menangkap Tommy. Bahkan kini muncul analisis bahwa gerakan aparat yang mau menangkap Tommy itu sekedar basa-basi belaka, yakni untuk meredam kekecewaan atau mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan politik di tubuh Polri sendiri maupun seputar di Mega.
Perilaku Ra Lilur kini memang kian aneh. Sudah dua minggu ini, Ra Lilur mengunci diri di sebuah gubuk di atas gunung. Bahkan pintu pagarnya pun digembok. Sehingga, tamu yang hendak sowan ke Ra Lilur sulit untuk bertemu. Selama ini hanya ada dua orang khaddamyang bisa menemui Ra Lilur.


Seorang tamu yaitu kiai dari Jember, KH. Nawawi Abdul Jalil, hanya bisa bertemu dengan ajudan. "Sudah dua minggu kiai tidak ngomong. Beliau berkomunikasi hanya dengan tulisan tangan saja. Kalau ada tamu, saya hanya bisa menyampaikan keinginan sang tamu. Tapi kiai hanya memberikan tulisan atau barang," papar khaddam yang sudah mengabdi sejak tahun 1989 ini. [bersambung]

Labels:

Kemerdekaan di Hati Rakyat

Kemerdekaan

Oleh: Mohamad Sobary


Bangsa Indonesia itu suatu kesatuan demografis, sekaligus kesatuan politis, yang membuat kita merasa ada keterikatan, ada kesamaan status dan cita-cita tentang hidup yang kita anggap ideal. Apa yang kita anggap ideal? Kaya - miskin tak mungkin dihapuskan. Tapi, jarak yang kaya dari yang miskin sebaiknya jangan terlalu jauh.

Anak-anak sekolah berbaris menuju ke lapangan. Bapak guru maupun ibu guru mendampingi mereka. Anak-anak kelas satu sampai kelas enam, semua ”tumpah” di jalanan.

Jiwa mereka bergembira, terutama karena pada hari itu mereka merdeka semerdeka- merdekanya untuk tidak memikirkan pelajaran-pelajaran yang ruwet. Mereka merdeka dari matematika. Mereka merdeka dari prakarya. Mereka merdeka dari ilmu bumi. Mereka pun merdeka di lapangan yang luas itu untuk membeli es lilin, kue-kue, roti, permen, dan berbagai jenis buah-buahan.

Mereka bergembira memperingati hari kemerdekaan bangsa kita dengan sikap merdeka pula. Di sana ada upacara bendera. Kita menghormati bendera, yang sudah dikerek di ujung tertinggi tiang bendera tersebut, dengan rasa hormat disertai rasa syukur.

Bendera itu melambangkan kemerdekaan kita. Hormat pada bendera itu fungsi suatu kesadaran politik dan gambaran rasa syukur karena perjuangan kita telah sampai di titik yang paling menentukan: kita merdeka. Bagi ”kita”, anak-anak sekolah, merdeka ya merdeka.
*** 

Di sekolah, sesudah acara di lapangan itu selesai, masih ada deretan acara peringatan. Seorang teman, anak kelas enam yang kreatif, menyusun sebuah cerita. Kemudian cerita itu dimainkan sebagai drama perjuangan kemerdekaan. Banyak pejuang kita tertangkap dan dibunuh. Banyak pejuang kita tertembak dan gugur di medan tempur.


Banyak pula pahlawan garis depan yang tersesat dan tak pernah kembali. Ini drama kepahlawanan terbaik yang kita miliki di sekolah. Di luar dugaan, drama itu diminta untuk dimainkan lagi di kelurahan. Kita meraih sukses besar. Sukses itu diulang di kecamatan. Ada empat sekolah yang diminta mementaskan drama perjuangan, karangan anak-anak.

Pak Camat menikmati pertunjukan drama itu. Pada hari keempat, sesudah sekolah kami tampil dengan rasa cemas, apakah kami bisa meraih nomor satu, ada kejutan besar. Pak Camat membacakan pengumuman dengan pelan-pelan, sengaja membuat hati anakanak merasa makin cemas. Suara Pak Camat terdengar lebih pelan lagi ketika menyebut juara satu.

Tapi, biarpun suara itu begitu pelan, kami mendengar, juara satu itu sekolah kami. Ini tahun pertama sekolah kami menjadi juara. Ini hasil kerja beberapa anak kreatif. Keesokan harinya, di kelurahan, ada acara meriah: panjat pinang. Di pucuk pohon pinang yang dibuat licin itu ada hadiah besar: ada kambing, ada ayam jago, ada jam tembok seharga lima ratus ribu, ada sarung, ada mi instan.

Warga masyarakat berlomba meraih hadiah itu. Mungkin bukan hadiah itu sendiri yang menarik. Lombanya, yang sebentar- sebentar menimbulkan gelak tawa meriah, mungkin lebih menarik. Sukar memanjat pohon pinang yang dibuat licin itu. Orang dewasa yang mencobanya selalu gagal. Bapak-bapak gendut yang kesulitan merangkul pohon pinang karena terganjal perutnya menjadi bahan tertawaan yang menyegarkan.

Kelihatannya, inilah makna merdeka di mata rakyat di kampung- kampung. Mereka menganggap merdeka terletak di dalam acara yang mereka buat. Mereka menikmati kemerdekaan untuk dengan susah payah meraih hadiah di pucuk pohon pinang yang tak mudah diraih itu. Kita memasang bendera merah putih untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di puncak pohon besar, di atas bukit yang mencolok mata.

Juga di pohon munggur dipinggir- pinggir jalan. Ini semua merupakan tanda bahwa secara politik kita sudah menjadi bangsa merdeka sejak 70 tahun yang lalu. Rakyat, di kampungkampung, menyadari kemerdekaan kita sebagai kemerdekaan. Merdeka ya merdeka. Selesai. Belanda sudah kita usir sampai hidup mereka begitu kocarkacir dan penuh ketakutan ketika Jepang mulai menginjakkan kaki di Tanah Air kita ini.

Jepang itu juga sudah kita tendang jauhjauh. Penguasa asing, bangsa kate, yang berkuasa setahun jagung menurut penuturan pujangga Jawa, Prabu Jayabaya, sudah berakhir. Jadi sekali lagi, suasana jiwa rakyat di kampungkampung, memang merdeka. Bagi mereka, merdeka ya merdeka. Selesai.

Di daerah-daerah di mana pergolakan politik mengalami titik kulminasinya yang tinggi, di mana korban bergelimpangan, dan ketakutan begitu mencekam, semua lenyap begitu kita menginjakkan kaki di halaman pertama sejarah Republik kita. Saat itu menjadi bangsa merdeka artinya ketakutan hilang, kecemasan lenyap. Kekhawatiran berubah menjadi optimisme.

Kemerdekaan itu hak segala bangsa. Juga, hak kita. Mengapa tidak. Penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi. Itu jelas sekali karena penjajah itu kejam, dan mereka tak menghargai kemanusiaan dan keadilan. Para pahlawan kita, gerilyawan yang gagah berani menyergap konvoi tentara musuh, kita kenang sebagai tokoh-tokoh berambut panjang, karena di daerah pertahanan kita, di luar daerah pendudukan, mencukur rambut merupakan persoalan yang sulit.

Ada gerilyawan yang bersumpah tak bakal mencukur rambut sebelum kita merdeka. Ini sumpah kepahlawanan yang kita anggap suci, sesuci sumpah Resi Bisma untuk tidak menikah sepanjang masa hidupnya.
*** 

Kaya-miskin sama saja di dalam kaca mata politik: dua-duanya warga negara. Kaum terpelajar dan bukan golongan terpelajar, atau mereka yang terdidik dan mereka yang tak terdidik, statusnya sama: mereka semua warga negara. Kita warga negara Indonesia. Kita bangsa Indonesia. Kita sama-sama memiliki negeri ini. Indonesia milik kita.


Bangsa Indonesia itu suatu kesatuan demografis, sekaligus kesatuan politis, yang membuat kita merasa ada keterikatan, ada kesamaan status dan cita-cita tentang hidup yang kita anggap ideal. Apa yang kita anggap ideal? Kaya - miskin tak mungkin dihapuskan. Tapi, jarak yang kaya dari yang miskin sebaiknya jangan terlalu jauh.

Kenikmatan hidup yang kaya, jangan terlalu mencolok dibandingkan dengan apa yang bisa diraih yang miskin. Terdidik-bukan terdidik, terpelajar- bukan terpelajar, yang pandai dan yang bodoh, jaraknya jangan terlalu jauh, bedanya jangan terlalu mencolok. Bangsa merdeka, juga kita, punya cita-cita politik yang luhur: meraih kehidupan yang adil, dan makmur, bagi kita semua, tanpa kecuali.

Kalau sudah makmur, kita harus membikin kemakmuran itu merata. Kita menciptakan keadilan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, bukankah itu keadilan bagi kita semua? Rakyat miskin tidak iri pada yang kaya, tapi jarak kaya-miskin jangan terlalu mencolok. Rakyat yang kurang pendidikan tak merasa iri pada mereka yang terdidik, tapi jarak kedua kelompok itu jangan terlalu jauh. Acara panjat pinang sudah berakhir.

Tak satu pun orang yang memenangkannya. Hadiahnya, akhirnya dijual pada warga yang mau membelinya. Uangnya dipakai untuk memeriahkan acara pada malam besoknya. Semua warga, malam itu, dianggap pemenang. Hadiah pun, yang diwujudkan dalam bentuk makanan, dinikmati bersama.

Pak Camat berpidato singkat: ”Kita merdeka secara dewasa. Kita dewasa menyikapi kemerdekaan kita.” Inilah merdeka di kampung. Ini kemerdekaan di hati rakyat. []

Koran SINDO, 25 Agustus 2015
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Labels: ,

Wednesday, August 26, 2015

Kritik Imam Jonru Sebabkan Murtad

Jonru Ginting sudah seperti imam besar -- tokoh panutan-- di dunia maya (baca Medsos). Pria yang semua berprofesi sebagai mentor sekolah menulis online itu tiba-tiba naik kasta menjadi seorang mufti (pemberi fatwa).

Ia kerap mengomentari setiap fenomena sosial. Namanya semakin "mentereng" menjelang pemilu 2014 lalu: kader PKS ini begitu aktif --bahkan provokatif --menyerang lawan partainya. Jonru semakin "gila" menjelang  pemilu presiden.

Karena prestasinya, namanya masuk dalam kosa kata baru: menjonru sama dengan berbohong, Kontan saja kasus ini sempat ramai, terutama antara dia dengan Akhmad Sahal.

Sebagai "imam besar" Medsos, Jonru memiliki banyak pengikut yang menelang setiap fatwanya tanpa memasak terlebih dahulu. 

Diantara ciri khas Imam Jonru adalah "fatwa kafir", syiah, sesat, dan minimal penganut bidah. Maka, ia disegani lawan (lebih tepatnya sih pada males ngeladenin igauan dia). Sebab, siapa yang tak sejalan dengan fikiran dia, berarti kafir. Sudah banyak tokoh yang kena fatwa sang imam. Sebut saja Prof. KH Quraish Shihab.

Hujjatul facebook (bukan hujjatul islam) ini, suatu ketika, pernah berfatwa: wanita yang selfie sudah tidak suci. Siapa yang tidak gagal faham mendengar fatwa ini?

Untuk itu,. menarik kita simak  Faizal Assegaf,ketua dari Progres 98. Ia kerap kali memberikan pernyataan yang sangat fenomenal. Beberapa jam yang lalu, Faizal kembali memberikan pernyataan yang cukup menghebohkan dan kali ini terkesan menyerang Jonru dan PKS.
Faizal dengan lantang membongkari politik syiah yang yang selama ini dilakukan oleh PKS. Berikut adalah kutipannya:
Sebagian orang begitu takut mengkritik JONRU dan PKS. Khawatir dituduh sesat, kafir, komunis, Nasrani dan Syiah.

Kalau PKS mungkin bisa sedikit dewasa, tapi kadernya seperti Jonru sangat ekstrim dan main teriak: "Anda sesat dan kafir !"

Jonru... INDONESIA beragam budaya dan agama, belajarlah dari FPI, NU, Muhammadyah, HTI, HMI, PMII, & ormas Islam lainya.

Belajar  menerima perbedaan agar tidak menjadi pribadi yang doyan mengkafirkan, sebab anda itu bukan ULAMA tapi kader PKS.

Anda gencar melakukan pengkafiran untuk perpecahan umat, apakah misi anda itu adalah agenda politik PKS ?

Dalam sepekan ini secara kebetulan muncul perdebatan soal Sunni - Syiah di laman fesbuk saya. Dan hal itu memicu kegusaran sebagian orang dengan menarik kesimpulan bahwa saya adalah Syiah, sesat dan kafir.

Menariknya, sebagian besar mereka yang mengkafirkan Syiah adalah para kader PKS. Yang terlanjur dikenal sebagai pembela kepentingan aliran Wahabi yang identik dengan Arab Saudi.

Sementara para pihak yang dituduh Syiah adalah kaum intelektual pengagum Republik Islam Iran. Termasuk siapapun yang memuji kemajuan nuklir Iran atau memberi apresiasi terhadap kepemimpinan Ahmadinejad, maka dikategorikan sebagai Syiah dan dianggap kafir.

Doktrin pengkafiran atas Syiah yang disebarkan oleh kader PKS merujuk pada "Fatwa MUI", yang hingga kini masih menimbulkan pro-kontra dikalangan tokoh-tokoh Islam. Terlebih "fatwa" tersebut belum mendapatkan pengakuan dan diverifikasi oleh ulama-ulama besar di dunia Internasional.

Bahkan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia (NU & Muhammadiyah) secara resmi belum mengakui fatwa MUI tersebut. Pasalnya, produk pengkafiran oleh MUI dianggap sebagai bagian dari kepentingan politik kelompok terkait. Namun ihwal fatwa itu terlanjur beredar dan diyakini sebagai kebenaran mutlak.

Mengapa PKS membenci Syiah...?

PKS sebagai partai politik berciri simbol-simbol Islam memiliki cara pandang yang berbeda dengan PPP, PBB dan PKB yang berbasis NU, Masyumi dan Muhammadiyah. Singkatnya, PKS secara tersirat menegaskan keberadaanya sebagai partai berhaluan politik wahabisme. Itu fakta !

Ciri yang menonjol dari politik Wahabisme adalah kegemaran mereka untuk mengkafirkan setiap orang yang tidak sejalan dengan kelompoknya. Tak heran, ketika anda berbicara tentang prestasi dan kemajuan Republik Islam Iran, maka mereka menuduh kafir. Tapi kalau memuji Arab Saudi, anda akan dianggap beriman dan sodara semuslim.

Pendekatan pengkafiran ala PKS cukup unik dan sekaligus efektif menimbulkan perpecahan di kalangan ummat Islam. Pasalnya, doktrin pengkafiran yang dilancarkan bertujuan memperluas pengaruh aliran wahabisme di Indonesia. Dan puncaknya terjadi jelang Pilpres 2014.

Celakanya, sebagian besar masyarakat terhasut oleh aneka fitnah yang disuarakan oleh PKS yang menuduh Syiah itu kafir. Akibatnya, kelak bila ada yang menulis: "Syiah PKS" maka apakah orang akan mengatakan PKS adalah kafir...?

Dalam Bahasa Arab, Arti Syiah adalah Pencinta, pengikut dan pendukung. Tidak tabuh dan haram bila menyatakan: Saya Syiah Muhammad SAW = pengikut Muhammad SAW, apakah hal itu kafir...?

Ketidakpahaman soal bahasa Arab saja kita bisa tersulut fitnah apalagi menyangkut perbedaan mazhab yang merupakan warisan Islam yang sudah berusia lebih seribu tahun. Kembalikan urusan Sunni - Syiah kepada ulama. Sebagai ummat kita wajib saling berangkulan dan berjuang bersama untuk melawan ketidakadilan.
Faizal Assegaf 
Ketua Progres 98
Bagaimana menurut Anda?

Sumber: attasites com dengan beberapa penambahan. Terutama di bagian awal tulisan.

Labels: