Skip to main content

Nadirsyah Hosen: Jangan Jadi Pelajar yang Kurang Ajar

Jangan coba-coba menjawab yah!

Para mahasiswa/i yang diterima masuk di Fakultas Hukum, Monash University adalah kumpulan para pelajar yang paling pandai dan terseleksi. Mereka hanya bisa diterima jikalau nilai ujian nasionalnya minimal 98/100. Salah satu mata kuliah wajib yang mereka harus ambil di semester pertama adalah Foundations of Law (di tanah air mirip dengan PIH/PTHI).

Seperti dulu di Wollongong, saya juga kebagian tugas mengajar mata kuliah ini di Monash. Ada sepuluh professor yang ditugaskan mengajar mata kuliah ini bersama-sama (teaching team). Ada satu poin menarik yang wajib disampaikan kepada seluruh mahasiswa baru yang pinter-pinter itu:

"Selamat, anda sudah menjadi mahasiswa fakultas hukum dari universitas ternama di dunia. Keluarga dan kawan kalian pasti bahagia dan bangga. Dan boleh jadi mereka mulai bertanya tentang kasus hukum kepada kalian, tapi ingat yah: kalian jangan coba-coba memberi jawaban atau saran hukum (legal advice) kepada mereka."

"Kalian harus menahan diri untuk menjawabnya karena kalian belum punya kapasitas dan pengetahuan untuk menjawabnya. A little knowledge is a dangerous thing. Pengetahuan yang sedikit adalah hal yang berbahaya. Lebih baik kalian sarankan kepada kawan dan kolega kalian untuk bertanya kepada para lawyer atau professor hukum, Jangan bertanya kepada anda!".

Saya senyum-senyum sendiri mempersiapkan materi perkuliahan minggu ini. Betapa di minggu pertama perkuliahan para mahasiswa hukum yang brilian itu "dihajar" dengan satu nilai etika yang begitu dahsyat: jangan berani menjawab masalah hukum hanya dengan pengetahuan kamu yang sedikit itu!

Pesan moral yang sama sebenarnya sudah ada dalam ranah agama, dimana para ulama sejak dulu selalu mengingatkan untuk berhati-hati mengeluarkan fatwa. Imam Malik, seorang yang mencapai level mujtahid mutlak, saja telah menjawab "saya tidak tahu" terhadap 32 pertanyaan dari 40 pertanyaan yang diajukan kepadanya. Bandingkan sikap ini dengan sejumlah pihak yang mudah sekali mengeluarkan fatwa di media sosial seolah telah menjadi mufti facebook atau mufti twitter.

Kalau anda masih belajar, maka jadilah orang yang terpelajar jangan malah bersikap kurang ajar. Kalau anda hanya tahu sedikit, jangan dikit-dikit kasih dalil sana-sini tanpa mengerti wajah istidlalnya. Kalau anda merasa mahir dalam agama, anda gak akan sembarangan bilang yang lain kafir.

Tahu cuma sedikit saja sudah dianggap berbahaya dalam memberi jawaban, apalagi kalau gak tahu apa-apa smile emoticon

salam hangat,

Nadirsyah Hosen
Monash Law School

Keterangan foto:
1. Kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibn Rusyd untuk pelajar dalam bidang perbandingan mazhab
2. Buku teks wajib Foundations of Law yang ditulis kolega saya Ross Hyams

Comments

Popular posts from this blog

FIKIH AKTUAL: BAB QURBAN

Oleh: KH Zaenuri Ahmad Zain Definisi hewan Qurban atau Udlhiyah adalah hewan ternak yang disembelih untuk mendekatkan diri kepada Allah di hari raya idul Adha hingga akhir hari Tasyriq (Syaikh Khatib asy-Syirbini, Mughni al-Muhtaj 6/122) Qurban adalah ibadah yang selalu dilaksanakan oleh Rasulullah Saw dalam setiap tahunnya. Dan ketika Rasulullah Saw menyembelih Qurban beliau berdoa: “Bismillah. Allahumma taqabbal min Muhammad wa ali Muhammad wa min ummati Muhammad”. Artinya: “Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah terimalah Qurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad” (HR Muslim) Hukum Ibadah Qurban Imam an-Nawawi mengutip di dalam kitabnya (al-Majmu’ 8/385) tentang perbedaan pendapat mengenai hukum Qurban ini. Namun mayoritas ulama yang didukung oleh Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar serta beberapa ulama madzhab adalah sunah. Hal ini berdasarkan hadis: “Tsalatsun Hiya ‘alayya faraidl wa lakum tathawwu’n an-nahru wa al-witru wa rak’ata ad-dlu...

Tarekat Sanusiyyah di Libya: Politik Islam dan Esoterisme Islam

Omar Mokhtar, salah seorang murid tarekat Sanusiyyah, singa padang pasir yang membuat gentar penjajah Italia A. Muntaha Afandie Historical accounts kehidupan para sufi terangkai bagaikan legenda. Cerita nan kompleks: kisah penuh hayalan, dan kasat pula dengan nilai-nilai spiritual, rasionil dan irasionill. Maka, sulit bagi kita untuk menyangkal bahwa tidak mungkin kehidupan kita dapat terpisahkan dari kisah-kisat tersebut, dan sulit pula untuk membedakan bagian mana yang merupakan cerita fiksi dan bagian mana yang menjadi realitas historis. Inilah tasawuf yang datang selalu “nyentrik” untuk kita pelajari.  Di zawiyah-zawiyah, bangunan khusus yang dipakai para sufi untuk mengasingkan diri, mereka menyepi; berdzikir dan membaca aurad. Hay ibn Yaqdhah, ”anak rusa” yang berhasil menemukan Tuhannya setelah lama melakukan ”riset” dan berkali-kali mengalami kegagalan. Demikian metode Ibn Thufail, filosof neo-platonis, mengambarkan proses kasyaf seorang sufi. Ada Ibrahim Ibn Adh...

Tasawuf al-Ghazali dan Relevansinya dalam Konteks Sekarang: Kajian Terhadap Kitab Ihya’ Ulum al-Din

Oleh Abdul Moqsith Ghazali Imam Ghazali tak hanya menjalankan tindakan-tindakan sufi, melainkan juga menulis buku-buku tasawuf. Karyanya yang paling gemilang di bidang ini adalah  Ihya’ Ulum al-Din . Sejauh yang bisa dilihat dari karyanya ini, diketahui bahwa corak tasawuf al-Ghazali lebih dekat kepada tasawwuf  khuluqi-‘amali  ketimbang tasawwuf  falsafi . Tak hanya bersandar kepada al-Qur’an dan Hadits yang menjadi ciri kuat tasawuf  khuluqi-‘amali  (kerap juga disebut tasawwuf sunni), melainkan juga al-Ghazali menuliskan pengalaman spiritual individualnya dalam buku ini. Abstrak Tak ada yang membantah kebesaran al-Ghazali. Magnum opusnya di bidang tasawuf, Ihya’ Ulum al-Din , mendapatkan sambutan meriah dan antusiasme dari publik Islam, sejak dulu hingga sekarang. Di tengah kecenderungan menjauhkan tasawuf dari ajaran Islam, Imam Ghazali menghidangkan tasawuf yang bertumpu pada al-Qur’an dan Hadits. Kitab Ihya’ Ulum al-Din  rimbun deng...