Skip to main content

Nasionalisme Santri dan Kiai: Upacara a la Kaum Sarungan

Bagi yang masih mempertanyakan nasionalisme kaum sarungan atau santri maka perlu dipertanyakan perbendaharaan sejarahnya. Betapa tidak, sejak era memperjuangkan kemerdekaan, kiai dan santri berdiri di garda terdepan: turun ke medan perang.

Bagi santri, penjajahan adalah bentuk kelaliman yang harus disingkirkan. Apalagi pascaresolusi jihad yang dikeluarkan oleh mBah Hasyim Asy'ari, rais akbar NU, mereka tumpah ruah berangkat ke medan jihad.

Tidak hanya itu, kaum sarungan tetap konsisten menjaga keutuhan NKRI. Maka, tercatat dalam sejarah, Ormas NU merupakan yang pertama kali menerima Pancasila sebagai dasar organisasinya. Disaat  Ormas lain, yang mengaku moderat,  masih "ogah-ogahan."
Santri Miftahul Ulum Bengkak, Wonorejo.

Begitu juga setiap kali peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, mereka turut serta memperingatinya,  khas dengan keunikannya.

Misalnya, santri NUHA, Malang. Mereka memperingati HUT RI lengkap dengan pakaian kebesaran santri: sarung dan kopiah hitam. Uniknya, upacara dilakukan di lantai tiga.

"Seperti santri-santri pesantren lain, santri Nuha tidak ketinggalan menumbuhkan nasionalisme dengan upacara di lantai tiga," tulis kiai Achmad Shampton Masduqie di akun facebooknya.

Upacara Santri Nuha (foto: koleksi Gus Shampton).



Pesantren Nuha adalah sebagian kecil lembaga pendidikan yang dikonotasikan kolot oleh sebagian "kaum terdidik" di negeri ini yang melaksanakan upacara tujuh-belasan.

Pesantren lain adalah, Pondok Pesantren Asy-Syafi'iyyah. Pesantren yang berada di Desa Kedungwungu, Kerangkeng, Indramayu, tersebut sudah dipastikan tidak pernah alfa dari kegiatan memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia.

"Sebab, disana ada jutaan shuhada. Kewajiban kita untuk mengenang dan memperkenalkan mereka kepada generasi muda bangsa agar tidak buta sejarah," tutur Ustad Abdurrafi dalam sambutannya sebagai pembina upacara.

Santri Pondok Pesantren Asy-Syafi'iyyah usai upacara pengibaran bendera.
Begitu juga Pesantren Ploso, Kediri. Pesantren yang terkenal dengan kedisiplinan dan kerapihannya.  Juga tidak ketinggalan melaksanakan upacara memperingati kemerdekaan RI, tak kalah dengan lembaga pendidikan yang menamakan diri sebagai lembaga pendidikan modern dan negeri. 
Upacara di Pondok Pesantren Ploso.


Hal itu, tidak lepas dari, seperti disinggung diatas, nasionalisme kaum sarungan tak akan lekang oleh zaman. Pendahulu mereka yang menumpahkan darah mengusir penjajah, maka tugas santri saat ini adalah menjaga kedaulatannya. [ama]


Comments

Popular posts from this blog

FIKIH AKTUAL: BAB QURBAN

Oleh: KH Zaenuri Ahmad Zain Definisi hewan Qurban atau Udlhiyah adalah hewan ternak yang disembelih untuk mendekatkan diri kepada Allah di hari raya idul Adha hingga akhir hari Tasyriq (Syaikh Khatib asy-Syirbini, Mughni al-Muhtaj 6/122) Qurban adalah ibadah yang selalu dilaksanakan oleh Rasulullah Saw dalam setiap tahunnya. Dan ketika Rasulullah Saw menyembelih Qurban beliau berdoa: “Bismillah. Allahumma taqabbal min Muhammad wa ali Muhammad wa min ummati Muhammad”. Artinya: “Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah terimalah Qurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad” (HR Muslim) Hukum Ibadah Qurban Imam an-Nawawi mengutip di dalam kitabnya (al-Majmu’ 8/385) tentang perbedaan pendapat mengenai hukum Qurban ini. Namun mayoritas ulama yang didukung oleh Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar serta beberapa ulama madzhab adalah sunah. Hal ini berdasarkan hadis: “Tsalatsun Hiya ‘alayya faraidl wa lakum tathawwu’n an-nahru wa al-witru wa rak’ata ad-dlu...

Tarekat Sanusiyyah di Libya: Politik Islam dan Esoterisme Islam

Omar Mokhtar, salah seorang murid tarekat Sanusiyyah, singa padang pasir yang membuat gentar penjajah Italia A. Muntaha Afandie Historical accounts kehidupan para sufi terangkai bagaikan legenda. Cerita nan kompleks: kisah penuh hayalan, dan kasat pula dengan nilai-nilai spiritual, rasionil dan irasionill. Maka, sulit bagi kita untuk menyangkal bahwa tidak mungkin kehidupan kita dapat terpisahkan dari kisah-kisat tersebut, dan sulit pula untuk membedakan bagian mana yang merupakan cerita fiksi dan bagian mana yang menjadi realitas historis. Inilah tasawuf yang datang selalu “nyentrik” untuk kita pelajari.  Di zawiyah-zawiyah, bangunan khusus yang dipakai para sufi untuk mengasingkan diri, mereka menyepi; berdzikir dan membaca aurad. Hay ibn Yaqdhah, ”anak rusa” yang berhasil menemukan Tuhannya setelah lama melakukan ”riset” dan berkali-kali mengalami kegagalan. Demikian metode Ibn Thufail, filosof neo-platonis, mengambarkan proses kasyaf seorang sufi. Ada Ibrahim Ibn Adh...

Tasawuf al-Ghazali dan Relevansinya dalam Konteks Sekarang: Kajian Terhadap Kitab Ihya’ Ulum al-Din

Oleh Abdul Moqsith Ghazali Imam Ghazali tak hanya menjalankan tindakan-tindakan sufi, melainkan juga menulis buku-buku tasawuf. Karyanya yang paling gemilang di bidang ini adalah  Ihya’ Ulum al-Din . Sejauh yang bisa dilihat dari karyanya ini, diketahui bahwa corak tasawuf al-Ghazali lebih dekat kepada tasawwuf  khuluqi-‘amali  ketimbang tasawwuf  falsafi . Tak hanya bersandar kepada al-Qur’an dan Hadits yang menjadi ciri kuat tasawuf  khuluqi-‘amali  (kerap juga disebut tasawwuf sunni), melainkan juga al-Ghazali menuliskan pengalaman spiritual individualnya dalam buku ini. Abstrak Tak ada yang membantah kebesaran al-Ghazali. Magnum opusnya di bidang tasawuf, Ihya’ Ulum al-Din , mendapatkan sambutan meriah dan antusiasme dari publik Islam, sejak dulu hingga sekarang. Di tengah kecenderungan menjauhkan tasawuf dari ajaran Islam, Imam Ghazali menghidangkan tasawuf yang bertumpu pada al-Qur’an dan Hadits. Kitab Ihya’ Ulum al-Din  rimbun deng...